News

Kritis dalam Mendengarkan Lagu

24 November 2017

Lirik memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lagu. Namun pada akhirnya lirik bukan satu-satunya elemen pembentuk lagu, ada melodi dan unsur-unsur lain.

Menurut penulis yang aktif menyuarakan isu perempuan, Trinzi Mulamawitri, sebenarnya kita bisa mengapresiasi musik dengan tidak menghilangkan unsur lain di dalam musik. Dengan tetap menikmati lagu sebagai sebuah karya seni, namun juga sekaligus bisa mengkritisi liriknya.

"Musik kan sebenarnya nggak cuma sekadar lirik, tapi ada juga beat-nya. Kalau kita lihat video klip, ada visualnya. Ada sebuah karya seni yang holistik. Sebenernya, oke kita menikmati beat-nya tapi kita juga tahu, kita bisa mengkritisi bahwa memang itu tuh liriknya nggak bagus, itu bisa banget," ujar Trinzi kepada detikHOT.

Ia menyebut tulisan Roxane Gay (penulis buku 'Bad Feminist') sebagai contoh dari hal tersebut.

"Dia bagus membicarakan soal itu, dia suka dengan musik hiphop, dia kritis tentang pop culture. Dia bilang bahwa, oke dia sangat menentang patriarki, tapi at the same time, dia menikmati musiknya tapi dia tahu kalau liriknya terlalu mengobjektifikasi perempuan, misalnya," jelasnya.

Sikap kritis dalam menikmati sebuah karya musik juga diharapkan oleh Kate Walton. Menurutnya, mendengarkan lagu atau pun produk budaya pop lainnya harus dibarengi dengan kesadaran bahwa itu adalah sebuah karya yang diciptakan manusia.

"Semua orang perlu sadar bahwa apa yang disampaikan dalam lagu, film, dan lain-lain tidak merupakan kehidupan nyata dan seharusnya tidak menjadi petunjuk hidup," tulisnya kepada detikHOT.

Kesadaran itu yang nantinya akan membuat para penikmat musik bisa mendengarkan lagu dengan lebih bijak. (hot.detik.com)