News

Sheryl Crow Kembali ke Era '90-an di Album Terbaru

12 Januari 2017

Lebih dari tiga tahun yang lalu, Sheryl Crow mengambil langkah karier di arah yang cukup berbeda dengan rilis album debut country miliknya, Feels Like Home. Terlepas dari jadwal tur tanpa henti dan kampanye promosi, albumnya tidak benar-benar meninggalkan impresi mendalam bagi para penggemar country, dan tidak ada satupun single yang berada lebih tinggi posisinya dari ke-72 dalam tangga lagu Billboard Hot 100.

"Tetap saja, itu adalah sebuah pengalaman yang hebat dan saya belajar banyak hal," kata Crow. "Namun saya harus mengatakan bahwa pasar musik country sendiri sangat komersial. Sekarang, saya ingin memiliki sebuah pengalaman di mana saya bisa terlepas dari kekangan komersialisme apapun."

Itu adalah pola pikirnya saat ia merekam album popnya yang akan datang, Be Myself, yang direkam bersama para kolaboratornya pada era '90-an, Jeff Trott dan Tchad Blake, tim yang bertanggung jawab untuk hits-nya seperti "My Favorite Mistake" dan "Everyday Is a Winding Road." Album ini dijadwalkan akan rilis akhir Maret atau awal April. "Saya benar-benar ingin kembali ke masa-masa saya memulai semua ini seperti di album kedua dan ketiga," kata Crow. "Saya ingin mengunjungi suara dan perasaan tersebut kembali. Benar-benar sangat menyenangkan sekaligus hal termudah yang pernah saya lakukan."

Crow telah bekerja dengan pencipta lagu/produser Trott selama dua dekade belakangan ini dan mereka tetap dekat, namun reuni dengan Blake adalah cerita lain. "Segalanya bermula saat Jeff dan saya sama-sama berkata, 'Apa yang bisa melengkapi ini?'" katanya. "Kami berdua berkata, 'Tchad Blake!' Saya pikir ia tidak akan pernah datang karena ia tinggal di Wales dan saya tidak bertemu dengannya selama 15 tahun. Namun saya mengirim surel padanya dan ia membalas, 'Kapan Anda butuh saya di sana?' Dia terbang kesini dan tinggal dengan saya di apartemen di atas garasi saya. Setiap sore, pukul 5, kami minum Guinness bersama. Dia telah melalui pengobatan kanker juga tahun lalu, dan itulah yang menyatukan kami. Sungguh amat menyenangkan dapat berada di sini bersamanya dan Jeff."

Ketika trio yang membuat album Sheryl Crow (1996) dan Globe Sessions (1998) tersebut telah berkumpul kembali, lagu-lagu baru pun kembali bermunculan. Hanya dalam tiga minggu pada September dan Oktober silam, mereka telah menciptakan 17 komposisi. Lebih dari segalanya, Crow ingin memastikan bahwa ia tidak terlalu memikirkan proyek ini. "Semakin tua Anda, Anda akan mulai membuat rekaman yang lebih diperhitungkan dan Anda mencoba untuk menantang diri Anda sendiri dan tidak mengulang pola yang sama," ujarnya. "Anda akan lebih menjadi metodis dan analitis tentang musik, dan itu tidak selalu membuat segalanya lebih baik. Saya ingin mempunyai perasaan yang sama seperti ketika saya membuat dua rekaman pertama saya – seperti seorang anak kecil yang bermain dengan teman-temannya dan menulis apa saja yang datang ke pikiran."

Rekaman tersebut telah selesai sebelum Donald Trump memenangkan pemilihan presiden, namun masalah yang menjadi perbincangan dunia pada 2016 ini tetap terlihat dalam liriknya. "Ketakutan benar-benar terpancar dari lagu-lagu saya," katanya. "Saya pikir pemilihan tersebut telah menimbulkan sebuah perasaan antara kita semua lawan mereka, dan sebuah perasaan yang mencoba untuk kembali ke akal sehat, jadi secara tema ada banyak dari semua itu dalam rekaman saya. Tidak lupa teknologi, entah buruk atau baik, juga menjadi tema. Saya benar-benar berpikir bahwa segala perkataan pedas yang kita katakan terjadi karena orang-orang berkomunikasi melalui teknologi tanpa mempunyai rasa empati."

Satu lagu yang akan dengan senang ia bagikan pada penggemarnya adalah "Heartbeat Away." "Saya menulisnya sebelum ada pembicaraan tentang Rusia," katanya. "Lagu itu bercerita tentang spionase dan seorang pria yang mengubur uangnya di Cayman Islands dan Rusia sedang melakukan peretasan. Kembali kepada masalah pemilu dan seperti ada perasaan bahwa ketakutan akan datang, sangat mengerikan. Akhirnya, seorang pria dengan muka merah masuk ke dalam pesawat jet pribadi dan terbang ke angkasa. Saya hampir menggantinya menjadi oranye, namun saya memutuskan untuk tetap membuatnya merah."

Lagu lainnya, "Halfway There," bercermin pada perpecahan yang terjadi di Amerika dan lagu ini menjadi pesaing single pertamanya, yang mungkin keluar setelah pelantikan Trump. "Saya seorang liberal, orang-orang tahu akan ini," kata Crow. "Dan saya telah melihat Nashville berubah banyak selama 10 tahun belakangan saat saya di sini. Ide dari lagu ini adalah meskipun Anda menyetir truk Chevy besar dan saya menyetir hybrid, atau Anda memakai pakaian desainer dan saya memakai jeans robek, tidak berarti kita tidak menginginkan hal yang sama di dunia ini dan hal yang sama untuk anak-anak kita di masa depan. Intinya adalah, kita harus mencoba setuju untuk tidak setuju, coba saja dahulu, dan temui aku di perjalanan saat ke sana."

Kembalinya ia pada gaya musiknya pada era '90-an mungkin dapat dilihat orang sebagai penolakan mentah-mentah atas masa-masa country-nya, namun Crow tidak melihatnya seperti itu. "Ini sama sekali bukan penolakkan," katanya. "Hanya saja beberapa bagian lagu saya terinspirasi dari The Rolling Stones era Let It Bleed dan Exile ketika mereka sedang memainkan musik country versi mereka, dan The Flying Burrito Brothers, juga orang-orang yang memainkan musik rock. Lagu-lagu itu tidak dimainkan di radio country, jadi saya tidak tahu mengapa (lagu) saya akan dimainkan di sana juga. Saya bukannya menghindari musik country, saya hanya merasa bukan lagi bagian dari format tersebut."

Bahkan jika ia adalah bagian dari format tersebut, tampil promosi di radio country bukanlah sesuatu yang ia nikmati. "Benar-benar lebih politik dari yang saya perkirakan," katanya. "Anda memainkan banyak penampilan gratis untuk stasiun radio supaya lagu Anda dapat dimainkan antara jam 3 dan 4 dini hari. Dan itu bukanlah cara bagaimana format musik lainnya bekerja, dan jujur saja hal itu melawan prinsip saya. Saya terlalu tua untuk mengizinkan itu terjadi untuk saya dan untuk menghabiskan malam-malam jauh dari anak-anak saya, itu sungguh tidak benar."

Crow merencanakan untuk mempromosikan Be Myself dengan sebuah tur besar. Pada satu titik, ada bahasan tentang melakukan tur "Outlaws" bersama Neil Young dan Willie Nelson, namun ia tidak yakin akan hal itu. "Mereka masih membicarakannya," katanya. "Mereka meminta kami melakukan itu, dan saya akan sepenuhnya bertanggung jawab. Lalu kami akan melakukan pertunjukkan kami masing-masing." Sementara itu, ia juga sedang mengerjakan rekaman all-star dengan Don Henley, Stevie Nicks, Willie Nelson, Vince Gill, Kris Kristofferson dan banyak lainnya. Beberapa lagunya baru, meskipun ia sempat berduet dengan Keith Richards di lagu "The Worst" milik The Rolling Stones (1994) dan ahli waris Johnny Cash telah mengizinkannya dirinya untuk melakukan duet virtualnya dengan sang "Man in Black" dalam "Redemption Day," lagunya yang direkam ulang oleh Johnny Cash pada akhir hidupnya. Ia berharap albumnya dapat dilepas ke pasaran mendekati akhir tahun nanti.

Sementara itu, Be Myself sepertinya siap untuk menjalin hubungan kembali dengan para penggemar lama Sheryl Crow, namun itu bukanlah tujuannya. "Saya tidak tahu siapa yang akan terhubung dengan saya," katanya. "Saya tidak tahu bagaimana itu bisa dimainkan di Spotify atau media berlangganan musik lainnya. Saya tidak memikirkan apakah saya akan menghasilkan banyak uang atau tidak, apakah saya akan mempunyai hits yang besar, karena saya tahu itu bukanlah bagaimana hal-hal ini bekerja. Namun saya akan menyukainya jika orang-orang mendengar musik saya, apalagi menikmatinya dan ikut merasakan pengalaman yang saya rasakan saat mendengar suatu lagu dan berpikir, 'Ya Tuhan, saya bisa mengerti ini.'" (rollingstone.co.id)